Kali Ini, Biarkan Tangan Tuhan yang Bekerja… Tak Perlu Tergesa-gesa!


Harapan

Entah apakah Tuhan akan membawa kita pada muara yang sama atau justru pada akhirnya kita harus berjalan pada jalur masing-masing, sendiri… apapun itu, aku harap tak ada yang terluka nantinya. Semoga kita masih bisa bertegur sapa, saling tersenyum meski bukan aku yang menemani kamu. Untuk saat ini, biarkan semuanya berjalan sesuai rencana-Nya… biarkan kunikmati waktu sendiri sembari mengenal siapa kamu. Aku tidak perlu lagi memaksakan harus secepatnya berada dititik itu, meski aku teramat ingin sampai pada kata penyatuan. Tidak perlu lagi tergesa-gesa seperti yang sudah-sudah jika akhirnya hanya akan membawa pada luka. Cukup letakkan saja di hati sebuah keyakinan tentang “apa yang menjadi milikmu, tidak akan pernah menjadi miliki orang lain” meski sejatinya kita memang tidak pernah benar-benar memiliki. Namun, keyakinan itu cukup membuatku tenang menjalani semua ini.

Tidak perlu memaksakan agar kamu mau tinggal disini, disampingku….karna aku percaya, jika kamu benar-benar ingin menjadikanku bagian dari hidupmu, kamu tahu kemana harus menuju. Aku tak perlu memohon apalagi mengemis, karna jika benar cinta, kamu tentu tidak akan membuat orang  yang kamu sayangi menjadi serendah itu hanya demi sebuah perasaan. Percayalah, diamku bukan untuk mengabaikanmu, aku hanya sedang menunggu dan melihat bagaimana usahamu.

Terkadang, aku merasa tidak adil dalam menilai orang baru yang ingin masuk dalam kehidupanku. Aku pikir, sulit sekali memberi kesempatan pada laki-laki hanya karena rasa takut yang begitu membekas. Perih oleh luka kemarin belum sepenuhnya pulih… kepercayaan yang hancur juga tidak mudah untuk dibangun kembali. Maka, maaf jika perlu waktu lebih lama untuk bisa mempercayai kamu.

Entah mengapa, untuk kali ini… denganmu, aku berani memilih untuk mencoba kembali meski belum sepenuhnya bisa percaya. Tapi aku yakin, ada kuasa Tuhan yang turut bekerja… yang menuntunku untuk belajar lagi menata hati. Tidak ada harapan yang berlebihan, karna setiap kali aku ingat sosokmu, seketika itu pula hatiku berbisik mengingatkan untuk segera sadar diri. Aku memilih untuk menjalani apa adanya, mengikuti arusnya…

Mengenalmu, kembali mengingatkanku akan keinginan memiliki sebuah rasa yang sederhana. Sebuah rasa yang membuatku bisa percaya sepenuhnya tanpa ada rasa cemas, tanpa ada rasa cemburu yang berlebihan, tanpa ada rasa takut yang menghantui. Rasa yang mengajarkanku untuk menjadi dewasa dalam memiliki. Dan jika… suatu saat nanti aku harus jatuh cinta, aku ingin memiliki cinta sederhana apa adanya, tidak berlebihan, sesuai dengan porsinya. Cinta yang mampu membuat kita saling percaya hingga kita tak perlu merasakan cemburu buta, cinta yang mampu membuat kita saling memahami, cinta yang tak menuntut untuk diumbar karena bagi kita, cukup menjadi rahasia berdua. Kamu mungkin tidak tahu bahwa saat ini aku mulai belajar semua itu darimu…

Berkali-kali aku bertanya, kamukah orangnya yang kelak akan bertahan disisi saat mengetahui apa yang menjadi kekuranganku? kamukah orangnya yang mampu melihat luka dimataku meski aku sudah bersusah payah untuk dapat tersenyum? kamukah orangnya yang bisa membuatku percaya lagi bahwa masih ada laki-laki baik dan tulus yang mau menerimaku dan keluargaku? aku sedang menunggu Tuhan menjawab semua pertanyaan itu.  Yang aku tahu sekarang hanyalah, saat aku bersamamu… aku tenang, dalam jarak yang jauh …meski mata belum sempat bertatap sekalipun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel